Salah Saya. Tolong Maafkan.

10:59 PM




Ada yang salah dari diri saya. Saya sadari itu. Bahwa mencintai buat saya tidak lagi begitu mudah.  Bahkan, dicintai kini justru nampak lebih mudah.

Ya, sebut saja saya sombong. Tapi itu bukan lagi prestasi yang harus saya banggakan. Memahami bagaimana diri ini begitu sulit mencintai nampaknya jadi hal yang begitu keras. Saya mencoba sangat keras hingga saya lelah sendiri, juga berakhir memberi luka di hati lain. Bahkan di saat pujian menjadi makanan baik bagi hati wanita, itu tidak lagi berlaku bagi saya.

Tidak, saya tidak meninggalkan luka sobek di bagian mana pun di hati saya. Tidak ada lagi noda tersisa karena belum memaafkan. Saya bisa bersumpah, walau terkadang mulut ini masih suka jahat berbicara mengenai luka demi membuat pembelaan. Padahal, masalahnya ada apa saya. Saya sadar, hebatnya tetap tidak merubah apa pun setelah sadar.

Definisi mengenai mencintai sungguh-sungguh pun menjadi sangat tabu dan abu bagi saya. Entah di mana yang salah. Saya baru saja membaca sebuah prosa wanita timur mengenai sayang dengan sungguh-sungguh.  Hebatnya lagi, setiap kata dalam kalimat pada prosa itu tidak satu pun saya rasakan.  Pertanyaannya, apa berbeda karena rasa yang saya cari adalah cinta, bukan sayang? Lalu, apa bedanya?

Hari ini, seseorang menampar hati saya dengan satu kalimat.

"Tyas, sejak kapan kamu jadi begitu dingin, bahkan saat hangat justru menghampiri kamu setiap saat?"

Saya tidak pernah berencana begitu dingin. Saya bersumpah demi Tuhan. Hebatnya, saya masih tidak tahu apa yang salah. Apa hanya karena saya menggenggam tanpa ingin menjaga? Atau karena saya mencium tanpa upaya menjatuhkan hati mana pun? Atau karena saya menghindari deklarasi?

Hebatnya, saya tidak tahu apa yang salah. Sepertinya, itu salah saya. Tolong maafkan.



Jakarta, 27 Desember 2016
Saya.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Recent Post