The Lemon Macaroon.
11:22 PM
"Kamu tahu, banyak rasa yang gak bisa jadi kata, bahkan kata yang gak bisa jadi kalimat"
Bukan, ini bukan saya yang bilang. Ini keluar dari seorang pria introvert yang saya kenal beberapa waktu belakangan ini. Pria tertutup yang...sepertinya sudah mulai mengintip keluar pintu dan mulai bicara.
Ini adalah pertama kalinya saya menulis sesuatu tentang pria, selain pria bergelar mantan itu. Ini tentang pria yang (sepertinya) susah sekali bahagia. Dia bilang bahwa setiap manusia punya bukunya masing-masing. Saya bertanya, siapa yang menulis? Kita, jawabnya, dengan pemberian pensil dari Tuhan.
It feels weird, but... I feel gloomy when I hear his voices. Even his breath that I heard on phone. Saya pernah tanya, kalau dia dessert, dessert seperti apa dia? Dia tidak bisa jawab. Tapi mengenalnya sebentar membuat saya melihat dia sebagai sepiring Lemon Macaroon with Vanilla Gelato and Mango Sauce. This man is like a macaroon, looks strong and fixed from the outside, but when you bite it, you'll feel the softness. I choose the lemon because he told me his soury story and lemon is too strong then he can't handle it. I choose Vanilla Gelato because I love it like a crazy. No, it doesn't mean that I love him like a crazy too (or maybe not yet, nanti ketulah lagi kalo bilang enggak), but... I put some hopes that he can be as sweet as the Vanilla Gelato. Vanilla Gelato yang sama seperti yang setiap kali saya beli. Ya, seperti itu. Mango? No, there's no meaning of it. Hanya karena kami berkenalan di musim mangga. Hanya itu.
But, he's still too sour. I don't know how and why, but he's so gloomy as hell and I feel sad about it. Literally, sad. And no matter why, I just wanna him to be happy and just that strong to make something on his own next page. The best...oh wait... the greatest one on the next page.
"Kamu tahu, banyak rasa yang gak bisa jadi kata, bahkan kata yang gak bisa jadi kalimat"
Ya, saya tahu bahwa tidak banyak rasa yang bisa berubah jadi kata. Karena rasa ya rasa. Sama seperti saya bisa sangat sedih bahkan dengan mendengar hela napas kamu saja lewat telepon. Pada akhirnya rasa akan hanya dimengerti dengan rasa. Lalu kata tidak lagi penting. Kalau begitu, cobalah buat cerita baru dengan rasa, jangan dengan kata. Gambarkan rasa termanis yang bisa digambarkan. Mungkin kamu ingat alasan kenapa saya bertanya tadi mengenai menggambar. Mulailah seperti saya menggambarkan kamu sebagai sebuah dessert. Lupakan katanya dan isi halaman berikutnya dengan rasa paling manis. Lalu lupakan saja kalimatnya. Beserta tanda bacanya. Karena rasa tidak butuh tanda untuk bisa dibaca tepat. Bahwa hanya rasa yang bisa mengerti rasa, tanpa harus dibaca dengan tepat.
Dan tidak ada jiwa yang dijual sia-sia untuk hidup yang baru. Bahwa kamu hanya sedang menabung untuk jiwa kamu yang baru nanti, di hidup yang baru. Untuk bisa menulis kata setelah rasa sudah memenuhi separuh halaman kosongmu. Kamu hanya sedang menabung dan menabung berarti mengorbankan keinginan demi bisa membeli sesuatu yang lebih besar, lebih mahal, lebih berharga. Jiwa baru nanti. Cerita baru nanti. Hidup baru nanti.
Catatan:
Tulisan ini dibuat bukan untuk mengguruimu. Tulisan ini dibuat hanya agar setelah ini kamu tidak lagi terus tinggal di halaman lama yang usang dan penuh coretan. Tidak ada ruang lagi untuk kamu tulis di sana. Dan tulisan ini dibuat agar senyum kamu tidak sekecut yang belum lama kamu tunjukan. Kasihan kumismu sudah ingin berontak dan menggila.
Tulisan ini dibuat bukan untuk mengguruimu. Tulisan ini dibuat hanya agar setelah ini kamu tidak lagi terus tinggal di halaman lama yang usang dan penuh coretan. Tidak ada ruang lagi untuk kamu tulis di sana. Dan tulisan ini dibuat agar senyum kamu tidak sekecut yang belum lama kamu tunjukan. Kasihan kumismu sudah ingin berontak dan menggila.
Jakarta, 7 Juni 2016
Dari sepiring Carrot Cake with Yogurt Side Sauce and White Chocolate Dip.
Dari sepiring Carrot Cake with Yogurt Side Sauce and White Chocolate Dip.

0 comments