Di Dekat Air Danau dan Peri Paling Cantik

9:36 PM


Lelah. Itu satu-satunya alasan terburuk yang pernah ada. Karena lelah, siapa pun dapat berhenti melangkah, bahkan untuk melakukan sesuatu yang mereka cinta dengan sangat. Mungkin benar, seindah apapun senja, tetap hanya akan ada gelap pada akhirnya. Itu yang saya baca malam ini.

Dari seseorang yang memberikan saya alasan untuk tidak pernah berhenti melangkah, bahkan dalam lelah dan tidak lagi beralaskan kaki, membuat kaki ini sering terinjak sesuatu yang tajam, lalu berdarah. Seseorang yang memberikan saya alasan untuk tidak berhenti, bahkan ketika tembok besar menghadang di depan muka. Saya masih berjalan, walau jalan terseok-seok dan bertebarkan memar di tubuh. Saya masih berjalan untuk senja yang kini telah berganti malam. Sehingga gelap adanya kini.

Baru sebentar memang, tapi rasanya seperti menghabiskan beribu tahun yang sia-sia sekarang. Begitu rasanya ketika saya sudah tidak diberikan alasan untuk berjalan lagi. Memar dan darah yang menyelimuti tubuh ini baru terasa sakitnya, Tidak bisa saya ungkap seberapa sakitnya. Namun, sepertinya tidak seberapa daripada kehilangan alasan lagi untuk melangkahkan kaki, walau banyak jalan di depan saya sekarang. Seharusnya ketika telah selesai dengan satu hal, saya harusnya berjalan untuk alasan yang baru.

Tapi tidak, biarkan saya di depan air danau dan peri paling cantik ini istirahat sejenak. Berharap agar lelahmu pun hilang. Sehingga saya dapat menerima kenyataan bahwa senja memang telah membawa saya kepada malam yang gelap dan berharap dapat bangun dengan dirimu bersama saya atau kembali bangun dengan menemukan diri saya telah ada di dasar danau agar lebih dekat dengan sang air dan peri cantik itu seperti yang kita impikan dulu.


Jakarta, 11 April 2015
Saya.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Recent Post