Sore ini, di tengah bulan Maret yang mulai bikin kantong deg-degan karena gajian masih lama. Tapi....tengah bulan saya kali ini beda. Saya merasa...begitu bersyukur dengan apa yang saya punya dan merasa Tuhan begitu baik pada saya lewat segala yang telah Ia berikan.
Sore ini, saya dan seluruh tim dari kantor tempat saya bekerja mengunjungi sebuah rumah singgah bagi para anak penyandang kanker yang hendak berobat. Namanya Rumah Anyo. Nama yang sudah lumayan besar, namun kamu tidak akan pernah tahu di balik nama hebat tersebut ada begitu banyak cerita hebat di balik pintu berwarna putih yang menyambut saya saat pertama datang. Tunggu sendiri sampai kamu bisa datang langsung ke sana. Awalnya, saya agak khawatir. Khawatir salah bicara, khawatir menyentuh anggota tubuh mereka karena takut melukai (in case, ini agak berlebihan memang) atau khawatir justru membuat mereka lelah dengan aktifitas yang kami akan lakukan sore ini.
Saya adalah orang pertama yang masuk ke dalam rumah berlantai dua tersebut. Saya langsung disambut dengan ruang tengah besar dengan panggung kecil berlantai kayu di tengah ruangan. Entah kenapa, saya begitu tenang di dalam sana. Saya disambut oleh seorang bocah berkulit putih dengan celana pendek dan baju yang warnanya tidak matching. Anak itu melihat saya, tidak berani maju, nampak malu, tersenyum, lalu ngeloyor masuk lagi ke dalam sebuah ruangan yang setelahnya saya tahu adalah sebuah kamar. Anak ini membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Lewat senyumnya, bocah ini memberi energi yang entah dari mana kepada saya yang beberapa hari ini suka sangat lelah karena harus selalu berangkat pagi pulang pagi. Setelah ini, saya akan beritahu kamu tentang anak ini lebih lanjut.
Di dalam rumah ini, sedang ada 8 anak yang sedang singgah. Tapi hari ini, saya hanya dipertemukan dengan 6 anak laki-laki jagoan. Agis, Abdi, Stevio, Afrizal, Barkah dan Agel.
Mari kita mulai dari Agis. Mengidap kanker mata membuat bocah berusia 2,5 tahun ini tidak bisa melihat lagi bagaimana indahnya langit sore atau seindah apa bentuk awan yang menghias di pagi hari. Agis kehilangan mata kanannya dan terancam kehilangan yang lainnya walau yang terancam pun kini sudah tidak berfungsi dengan baik lagi. Agis ini sering disebut teman-teman di Rumah Anyo sebagai calon presiden ke-15. Makanan kesukaannya Nasi Uduk dan Nasi Goreng. Tadi saat berkenalan, Agis gak mau sebutin mananya, tapi saat Mbak Ester (salah satu pengurus Rumah Anyo) sebut kalau kami membawa Nasi Uduk (walau ternyata kami bawa nasi timbel), anak ini langsung mau ngobrol dan bilang mamanya "mau nasi uduk". Tapi, Agis diberikan tantangan oleh Mbak Ester untuk nyanyi biar bisa mencicipi nasi uduk yang sebenernya gak ada itu. Lalu, Agis, dengan polosnya, mau nyanyi dan malah bilang "Micnya". For God's Sake, Mic?? This boy is really born to be a rock star!
Anak kedua, Abdi. Well, anak ini adalah anak yang buat saya jatuh cinta saat pertama kali tadi. Ternyata namanya Abdi, dia punya kelainan di jantung yang membuat dia harus operasi beberapa waktu lalu. Bekas operasi masih terlihat di dadanya. Entah seperti apa sakitnya kalau tidak sengaja tersenggol atau terpegang. Tapi anak ini jarang nangis katanya. Senyumnya begitu tenang, seperti setiap hal buruk yang terjadi pada saya beberapa waktu belakang ini hilang sedikit demi sedikit lewat setiap senyum yang dibuatnya untuk saya. Anak ini, hanya bicara 2 kali. Saat sedang bagi-bagi makanan dia bilang "aduh mana sih kok aku gak dibagi-bagi" dan saat berusaha menerobos gerombolan kami yang besar-besar dia bilang "aduh ramai ya gak bisa lewat". Dan seisi ruangan tertawa bahagia karena ucapan bocah ini. Abdi, someday I wanna meet you again. Sembuh ya, Nak. Kakak pengen peluk kamu erat-erat tanpa harus khawatir bikin dada kamu sakit karena meluk terlalu keras. Dan... terima kasih sudah buat kakak se-jatuh cinta ini sama kamu.
Anak selanjutnya, Barkah. Anak ini paling tidak banyak omong. Tapi dari semuanya, dia yang paling sopan. Saya belajar banyak soal Barkah justru dari Ibunya. Barkah ini sakit leukimia, secara fisik Barkah nampak begitu sehat padahal dia sedang dalam kondisi yang tidak begitu bagus, tapi dia tampak begitu tenang dan ikhlas. Saya bisa lihat itu dari matanya dan dari mata sang mama yang begitu sabar, tulus. Bahkan mama Barkah sempat mengajarkan saya mengolah ikan teri oven yang dia bawa langsung dari kampung ke Rumah Anyo. FYI, walau anak yang singgah datang dan pergi, ternyata saat di kampung halaman masing-masing, ibu-ibu ini sering kontak-kontakan untuk saling jaga silaturahmi. Sudah seperti saudara sendiri, katanya.
Paling jagoan dari semuanya, Agel. Kalau anak ini paling santai. Mengidap Kanker Otak ternyata tidak sedikit pun membuat semangatnya turun untuk godain teman-temannya. Yang bilang Agis calon presiden ke-15, dia ini kompornya. Cita-citanya mau jadi Pilot, katanya pekerjaan itu lebih tinggi dari pada Presiden. "Lebih tinggi" yang dimaksud benar-benar posisinya di atas langit. Satu ruangan juga tertawa, ditambah setelah dia bilang "jadi tukang cukur rambut juga di atas presiden". Entah siapa yang ngajar, but seriously? Dari mana ilhamnya anak ini. Agel, yang paling besar tapi paling susah makan. Ngantuk katanya, makanya malas makan. Kata sang mama, Agel emang susah makannya. Pas ditanya Agel emangnya suka makan apa? Rendang katanya. Anak padang banget, cuma.... kurangin santen ya dek. *masih ketawa sampai sekarang*
Anak selanjutnya, Afrizal. Si kecil ini mau jadi dokter anak. Alasannya karena dokter anak pakai bajunya gak putih-putih. Bisa kadang-kadang pakai baju biru, hijau muda dan warna-warna ceria lainnya. Mungkin juga karena dia sudah langganan bolak balik ke dokter anak. Anak pintar ini gak seaktif Agel, cuma gak beda jauh sifatnya sama Agel. Yang beda cuma sore ini Rizal makan banyak, Agel gak makan. Udah itu aja. Gak ada lagi bedanya. Rajin belajar ya, Rizal. Semua anak-anak pasti bakal rajin-rajin ke dokter untuk periksa rutin cuma buat ketemu kamu, dokter manis.
Last but not least, Stevio! Vio ini kena kanker rahang, bisa dilihat masih ada sisa bagian besar bekas operasi dibawah pipinya. Vio ini suka banget nyanyi. So, ini dia orang pertama yang tunjuk tangan untuk nyanyi diatas panggung. And his voice is wonderful. Dia juga anak yang maksa saya foto duduk dekat dia. Saat mau jepret dan bilang 'cheese' dia langsung peluk saya dari belakang. Saat itu mau buru-buru nangis ke kamar mandi, cuma lihat senyumnya lagi, saya memilih menikmati senyumannya aja. Vio ini setiap habis makan selalu mengeluarkan air liur dari mulutnya, karena itu, saya sempat kehilangan anak ini selama 10 menit, ternyata dia sedang ganti baju. Kata mamanya, "malu sama kak Tyas kalo bajunya basah gitu", then I went to our car, crying for a minute and I was back for hug him.
Ada satu anak lagi, namanya Dince. Perempuan yang ini. Gak terlalu banyak cerita sama anak ini, karena dia baru pulang dari RS saat semua acara sudah selesai. Tapi anak ini manis, sopan, one of a kind lah. Sayang belum cerita banyak soal dia. Semangat Dince, sering ketawa ya. Senyum manis gitu sayang kalo gak di share ke orang lho.
Lewat anak-anak ini, kunjungan saya hari ini justru bukan untuk menghibur mereka. Sampai sana mereka yang menghibur, mereka yang memberikan kami begitu besar, bahkan mereka justru memberikan saya pelajaran begitu banyak. Mengenai kerasnya hidup sampai setiap keikhlasan yang dikeluarkan.
Setengah tahun lalu, saya di vonis memiliki kista endometriosis dengan ukuran 3 cm. Ukuran kecil itu memang sudah cukup mengganggu setiap aktifitas saya. Tidak boleh makan ini, tidak boleh melakukan ini, harus menahan sakit perut luar biasa sebulan sekali, kadang mengikhlaskan badan cepat demam dan pilek, bahkan tidak boleh makan mecin.
Saat itu, saya hampir mengeluh setiap saat, merasa hidup ini seperti melelahkan dengan rasa sakit yang bertubi-tubi saat itu. Tapi, apalah saya ini dibandingkan anak-anak hebat di Rumah Anyo ini. Dan saya begitu bersyukur dipertemukan dengan mereka, ini seperti cara lain Tuhan memberitahu saya untuk lebih ikhlas, lebih tenang dan pasrah.
Agel, Agis, Vio, Rizal, Barkah, Abdi, Dince, semangat ya. Kak Tyas juga janji akan semangat dan akan main ke sana lagi untuk ketemu banyak lagi teman-teman kalian yang tadi sempat kalian ceritakan. Terima kasih pelajarannya hari ini. Terima kasih sudah memberikan begitu banyak energi baik hari ini.
Untuk teman-teman lainnya yang baca ini, kalian bisa berkunjung ke Rumah Anyo kapan saja, lho. Rumah ini selalu terbuka untuk siapa pun yang ingin berkunjung. Jangan lupa titipkan salam saya untuk mereka dan Ibu Sarah yang begitu hebat menjalankan yayasan ini.
Jakarta,
14 Maret 2015
- 12:36 AM
- 0 Comments
